Jumat, 13 Januari 2012

MEMBANGUN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK

Disusun Oleh:
Yudha Prihadi
(10313244026)/ Pendidikan Matematika Internasional


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah pembelajaran Matematika sering dijumpai banyak  kesulitan baik dari peserta didik maupun pendidik itu sendiri. Kenyataan yang dapat kita jumpai adalah tidak semua peserta didik mampu menguasai bahan pelajaran yang disampaikan oleh pendidik dengan baik. Banyak dari mereka mengalami kesulitan dalam belajar Matematika, bahkan tak banyak pula yang menghindari pelajaran Matematika. Masalah kesulitan dalam belajar ini sudah menjadi problema umum yang khas dalam proses pembelajaran, terutama dalam pembelajaran Matematika (M. Alisuf Sabri, 1996). Aktifitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang- kadang tidak. Kadang-kadang dapat dengan cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit mengadakan konsentrasi. Karena setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual inilah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dan gejala kejiwaan dalam belajar dikalangan anak didik. Gejala-gejala jiwa dalam diri individu juga dapat mempengaruhi kesulitan mereka dalam belajar.
Disetiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki peserta didik yang berkesulitan belajar. Setiap kali kesulitan belajar peserta didik yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kesulitan belajar peserta didik yang lain. Berbagai macam faktor dapat mempengaruhi mereka dalam belajar Matematika. Baik faktor internal dari dalam diri peserta didik itu sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari luar diri peserta didik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja bentuk gejala jiwa yang muncul saat belajar?
2.      Bagaimanakah hubungan antara gejala kejiwaan seorang peserta didik dengan kesulitan belajar Matematika yang dialaminya dan apa penyebabnya?
3.      Bagaimana bentuk kesulitan belajar peserta didik dalam belajar Matematika?
4.      Bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar peserta didik dalam mempelajari Matematika?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui bentuk gejala kejiwaan peserta didik dalam belajar.
2.      Mengetahui hubungan antara gejala kejiwaan seorang peserta didik dengan kesulitan belajar yang dialaminya serta penyebabnya dalam pembelajaran Matematika.
3.      Mengetahui bnetuk-bentuk kesulitan belajar peserta didik dalam belajar Matematika.
4.      Mengetahui cara mengatasi kesulitan belajar peserta didik dalam mempelajari Matematika.

BAB II
ISI

1.      Bentuk Gejala Kejiwaan dalam Proses Pembelajaran
Gejala jiwa pada manusia tampak dari perilakunya. Begitu pula dalam sebuah proses pembelajaran. Bentuk-bentuk gejala jiwa sangat mempengaruhi dan mendasari perilaku seorang individu. Berikut merupakan bentuk-bentuk gejala jiwa dalam pembelajaran:
a.       Pengindraan dan Persepsi
Pengindraan merupakan proses masuknya stimulus ke dalam alat indra, kemudian akan diterjemahkan oleh otak. Sedangkan persepsi adalah proses penerjemahan stimulus tersebut. Meski stimulus yang diamati sama namun dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Begitu pula dalam pembelajaran Matematika, tidak semua peserta didik dapat memiliki persepsi yang sama dalam mengartikan stimulus yang diberikan. Mereka mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda.
b.      Memori
Memori merupakan sebuah aktivitas yang berhubungan dengan masa lalu (Walgito, 1997). Tiga tahapan dalam memori meliputi memasukkan pesan dalam ingatan, storage, dan retriveal. Ada 3 jenis memori, yaitu (1) Memori Jangka Pendek(informasi dalam memori hanya bertahan beberapa detik); (2) Memori Kerja (dapat menyimpan memori dalam beberapa menit bahkan jam, biasanya dalam tipe belajar kebut semalam sebelum ujian dikeesokan harinya); (3) memori Jangka Panjang (menetap/ permanen dalam pikiran manusia, biasanya tentang hal-hal yaang bermakna dan penuh arti dalam kehidupan).
c.       Berpikir
Merupakan proses yang melibaatkan beberapa manipulasi pengetahuan di dalam sistem kognitif yang diarahkan dan menghasilkan perbuatan pemecahan masalah (Mayer dalam Solso, 1998). Dalam pembelajaran Matematika berpikir meliputi proses mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah.
d.      Intelegensi
Merupakan kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri, belajar, berpikir dan memecahkan masalah.
e.       Emosi dan Motivasi
Emosi diartikan sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan dalam tubuh (Kartono, 1987). Sedangkan motivasi merupakan suatu kondisi yang menyebabkan perilaku tertentu dan memberi arah serta ketahanan pada tingkah laku tersebut. Emosi dan motivasi sangat berpengaruh dalam keberhasilan kegiatan belajar seorang peserta didik.

2.      Hubungan Antara Gejala Kejiwaan Seorang Peserta Didik dengan Kesulitan Belajar Matematika yang Dialami dan Penyebabnya
Kesulitan belajar merupakan suatu gejala kejiwaan yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya hasil belajar yang rendah dibandingkan dengan prestasi yang dicapai sebelumnya (Warkitri, 1990). Jadi, kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dimana seorang peserta didik dalam sebuah proses belajar ditemukan adanya hambatan- hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar. Gejala kejiwaan dalam diri peserta didik sangat berpengaruh pada kesulitan belajar yang dialaminya. Akan tetapi, kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi juga disebabkan oleh faktor- faktor noninteligensi.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono dalam bukunya menjelaskan bahwa faktor penyebab kesulitan belajar meliputi:
1.      Faktor Intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri ) yang meliputi:
a.       Faktor Fisiologi
-          Karena sakit dan kurang sehat
-          Sebab karena cacat
b.      Faktor Psikologi
-          Inteligensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Semakin tinggi IQ seseorang akan makin cerdas pula. Akan tetapi, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.  Sedangkan, anak yang mengalami  mentally defective pasti akan mengalami kesulitan belajar.
-          Bakat
Seseorang akan mudah mempelajari sesuatu sesuai dengan bakatnya. Apabila seorang anak harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang.
-          Minat
Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakat nya, tidak sesuai dengan kebutuhannya, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimbulkan problem pada dirinya.
-          Motivasi
Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.
2.      Faktor Ekstern
a.       Faktor keluarga
-          Orang tua
Orang tua yang kurang/ tidak memperhatikan pendidikan anaknya, serta tidak memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya. Hubungan antara orang tua dengan anak juga harus harmonis. Karena hal ini juga membantu keberhasilan dalam belajar mereka.
-          Suasana rumah / keluarga
Suasana rumah yang ramai atau gaduh tidak mungkin membuat anak akan dapat belajar dengan baik. Anak akan terganggu konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar.
-          Keadaan ekonomi keluarga
b.      Sekolah
Unsur- unsur yang ada di dalam sekolah yang  berpengaruh dalam keberhasilan belajar siswa diantaranya guru, sarana/ prasarana, kondisi gedung sekolah, kurikulum yang digunakan, waktu yang kurang disiplin.  
c.       Media massa dan lingkungan sosial

Menurut M. Sholeh (1998: 39) dalam pembelajaran Matematika siswa yang mengalami kesulitan belajar antara lain disebabkan oleh hal- hal sebagai berikut: 
1.      Siswa tidak bisa menangkap konsep dengan benar
Siswa belum sampai ke proses abstraksi dan masih dalam dunia konkret. Dia belum sampai kepemahaman yang hanya tahu contoh- contoh, tetapi tidak dapat mendeskripsikannya.
2.      Siswa tidak mengerti arti lambang- lambang
Siswa hanya menuliskan/ mengucapkan tanpa dapat menggunakannya. Akibatnya, semua kalimat matematika menjadi tidak berarti baginya.
3.      Siswa tidak dapat memahami asal- usul suatu prinsip
Siswa tahu apa rumusnya dan menggunakannya, tetapi tidak mengetahui dimana atau dalam konteks apa prinsip itu digunakan.
4.      Siswa tidak lancar menggunakan operasi dan prosedur.
Ketidaksamaan menggunakan operasi dan prosedur terdahulu berpengaruh kepada pemahaman prosedur lainnya.
5.      Ketidaklengkapan pengetahuan
Ketidaklengkapan pengetahuan akan menghambat kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematika, sementara itu pelajaran terus berlanjut secara berjenjang.

3.      Bentuk-bentuk Kesulitan Belajar dalam Pembelajaran Matematika
Sentral dari pembelajaran matematika adalah pemecahan masalah atau mengutamakan proses daripada produk atau hasil akhir. Jika proses yang dilakukan salah maka tidak akan mencapai hasil akhir yang tepat. Pada langkah-langkah pemecahan masalah soal matematika yang berbentuk uraian misalnya, peserta didik melakakukan kegiatan intelektual yang dituangkan pada kertas jawaban. Di sini akan terlihat berbagai macam kesulitan-kesulitan belajar peserta didik melalui jawaban yang dituangkan dalam kertas tersebut.
Sementara itu, beberapa ahli menggolongkan jenis-jenis kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal matematika diantaranya; salah paham dalam menggunakan kaidah komputasi atau salah pemahaman konsep, kesalahan penggunanan operasi hitung, algoritma yang tidak sempurna, serta mengerjakan dengan sembarangan.
Sedangkan Wakitri dkk.(1990) mengemukakan bentuk-bentuk permasalahan peserta didik dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Kekacauan Belajar (Learning Disorder)
Suatu keadaan di mana proses belajar anak terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan akibatnya anak tidak bisa menguasai bahan pelajaran dengan baik. Seorang anak akan mengalami kebingungan dalam memahami berbagai rumus ataupun langkah-langkah yang disampaikan oleh gurunya.
2.      Ketidakmampuan Belajar (Learning Disability)
Seorang anak tidak mampu belajar atau selalu menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajarnya berada di bawah potensi intelektualnya. Misalnya dalam pembelajaran Matematika hal ini disebabkan karena terlalu rumitnya langkah atau rumus yang ada, sehingga mereka tidak mampu untuk mempelajarinya.
3.      Learning Disfunction
Kesulitan belajar ini mengacu pada tidak dapat berfungsinya gejala proses belajar dengan baik dan anak tidak menunjukkan suatu gangguan apapun. Misalnya anak sudah belajar Matematika dengan tekun tetapi tidak mampu menguasai bahan belajar dengan baik.
4.      Under Achiever
Kesulitan belajar pada anak yang memiliki potensi intelektual yang tergolong diatas normal tetapi prestasi belajar yang dicapai tergolong rendah. Dalam hal ini prestasi belajar yang dicapai  tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimilikinya.
5.      Slow Learning
Anak sangat lambat proses belajarnya dibandingkan teman-temannya yang memiliki kemampuan intelegensi yang sama sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam belajar.
Sedang anak yang mengalami kesulitan belajar memiliki ciri-ciri gejala kejiwaan antara lain; menunjukkan hasil belajar yang rendah tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, lambat dalam melakukan tugas kegiatan belajar, menunjukkan sikap-sikap emosional, dan menunjukkan perilaku yang kurang wajar (Moh. Surya, 1978).

4.      Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik dalam Pembelajaran Matematika
Kenyataan yang dihadapi pendidik adalah dalam proses pembelajaran Matematika pendidik sering menjumpai peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar seperti yang telah disampaikan di atas. Pada akhirnya, peserta didik tidak mampu menguasai bahan pelajaran yang telah disampaikan dengan baik. Agar proses pembelajaran berhasil, maka pendidik harus berusaha menemukan letak dan bentuk gejala-gejala kejiwaan  seorang peserta didik yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda.
Sebelum menetapkan alternative pemecahan masalahan kesulitan belajar, pendidik sangat dianjurkan terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap gejala-gejala yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda peserta didik. Dalam melalukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai “diagnosis” kesulitan belajar. Banyak langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh pendidik antara lain dikutip Wardani (1991) sebagai berikut :
1.      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang peserta didik dalam proses pembelajaran
2.      Memeriksa alat indera peserta didik, khusunya yang diduga mengalami kesulitan belajar
3.      Mewawancarai orang tua/wali untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
4.      Memberikan tes diagnostik bidang kecakapanb tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.      Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khusunya kepada peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Cara mengatasi kesulitan belajar siswa yang lain adalah dengan mengenali hakekat seorang siswa mempelajari Matematika itu sendiri, seperti yang dikemukakan oleh Ebbutt dan Straker (1995) berikut: (1) Siswa akan mempelajari matematika dengan senang jika mempunyai motivasi, (2) Siswa mempelajari matematika dengan cara yang berbeda dan dengan kecepatan yang berbeda pula, (3) Siswa memerlukan teman dalam mempelajari matematika, (4) Siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam belajarnya. Jadi, seorang pendidik harus mampu mengenali gejala-gejala jiwa yang ada dalam diri peserta didiknya. Selain itu, seorang pendidik harus lebih aktif, kreatif, dan inovatif lagi dalam penyampaian materi ajarnya. Dengan penyampaian konteks belajar yang tidak monoton akan lebih memotivasi peserta didik dalam belajar Matematika. Dengan begitu sedikit demi sedikit kesulitan belajar itu akan teratasi dengan baik.
Sedangkan menurut teori belajar Humanistik yang disampaikan oleh Carl Rogers dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik, seorang pendidik perlu mengetahui tipe belajar peserta didik tersebut. (1) tipe belajar Kognitif (Kebermaknaan), peserta didik akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran dengan mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi peserta didik. (2) tipe belajar Experimental Learning, menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan peserta didik. Kualitas tipe belajar ini mencakup keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan efeknya membekas pada diri peserta didik.  Dengan cara belajar melalui sebuah pengalaman akan melibatkan peserta didik aktif dalam proses pembelajaran serta memaknai apa yang telah dipelajarinya. Sehingga mereka dapat mengatasi kesulitan dalam belajar Matematika sesuai dengan makna yang telah mereka ambil dari pembelajaran itu (belajar dari sebuah pengalaman).


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesulitan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai macam hal, baik intern maupun ekstern. Gejala kejiwaan seorang peserta didik dapat mempengaruhi keualitas hasil belajarnya, serta menentukan apakah ia mengalami kesulitan belajar atau tidak. Kesulitan belajar dapat diatasi dengan berbagai cara, antaralain dengan cara diagnosis kesulitan belajar peserta didik, mengenali hakekat peserta didik dalam belajar Matematika serta tipe belajarnya. Metode pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif sangat mempengaruhi motivasi siswa dalam pembelajaran Matematika. Demikian pula dengan kebermaknaan suatu proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Alisuf, M. Sabri. 1996. Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN Fakultas Tarbiyah. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya.
Sholeh, Muhammad. 1998. Pokok-pokok Pengajaran Matematika di Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Warkitri, dkk. 1990. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. Jakarta : Karunika UT.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar